Lahirnya Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia  (KKNI) telah membawa tatanan perubahan kurikulum Pendidikan Tinggi. Sebagai sebuah "kerangka", KKNI hadir sebagai wadah untuk menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan bidang kerja di berbagai sektor. Standarisasi  Kemampuan kerja dari setiap lulusan Pendidikan Tinggi (baca: program studi) menjadi tantangan tersendiri untuk kemudian dapat diejawantahkan dalam pangsa pasar yang nyata. Oleh karena itu, lahirnya KKNI meniscayakan adanya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia  (SKKNI) sebagai dasar pemberian opsi munculnya capaian pembelajaran (learning outcome) yang dibutuhkan setiap lulusan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Berbagai kemampuan dan peran yang dimiliki para lulusan Pendidikan Tinggi yang meliputi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan merupakan kemampuan minimal yang harus terintegrasi dengan kurikulum. Alhasil, jika merujuk pada standar kemampuan yang dimiliki para lulusan program studi, maka pengakuan (recognize) terhadap kemampuan lulusan tersebut mestinya harus sama.

Brunei Darussalam, Seiring dengan perkembangan zaman (era IT), jati diri guru Pendidikan Agama (Islam) terus menjadi perbincangan menarik. Hal tersebut bukan karena pendidikan agama sebagai satu-satunya “pembentuk karakter” peserta didik atau ahli agama, tetapi sering kali “pendidikan agama” diidentikkan dengan sesuatu yg “konservatif”, tekstual dan kurang memberi ruang gerak dalam keterbukaan berfikir.